Selasa, 28 April 2015

Di tengah tersendatnya masa panen dan melambungnya harga beras, sebuah kabar mengejutkan datang dari Kota Tangerang, Banten, awal Januari silam. Di sejumlah pasar tradisional seperti Pasar Anyar, Malabar dan Ciledug beredar beras yang mengandung bahan pemutih berbahaya: klorin! Tak urung temuan Suku Dinas Pengawasan Obat dan Makanan Kota Tangerang itu membuat banyak pihak terperangah.

Dari sepuluh sampel beras berbagai jenis dan harga yang diteliti bisa disimpulkan, tak satu pun beras-beras itu yang tidak terkontaminasi klorin. Padahal, bahan kimia ini tidak diperuntukkan sebagai campuran makanan karena bersifat racun bagi tubuh. Menurut Kepala Sudin POM Kota Tangerang Wibisono, bila beras ini dikonsumsi terus menerus dalam jangka waktu lama bisa mengganggu fungsi pencernaan, hati, dan ginjal.

Sejumlah pedagang dan pengusaha penggilingan padi memberi kesaksian bahwa praktik memoles beras dengan pemutih sudah menggejala di banyak tempat. Selain itu, para petani ternyata juga sudah lazim menggunakan zat pewangi. Bahkan, praktik ini dilakukan secara lebih terbuka. Menurut Direktur Pusat Riset Pangan dan Pertanian Asia Tenggara (Seafast) Purwiyatno Hariyadi, dalam praktik ini sangat jelas adanya unsur menipu konsumen. "Seolah-olah dikesankan itu adalah beras wangi," ujar Purwiyatno.

Di balik warna beras mengkilat yang menggoda, dia mengakui banyak kekurangan dari beras yang telah dipoles, seperti tidak tahan lama. Ini dimaklumi karena saat dipoles beras-beras itu sudah direndam air sehingga harus segera dikonsumsi. "Beras yang dipoles juga terasa kurang enak kalau dimakan," imbuh dia.

Di pasaran, klorin banyak diperjualbelikan dalam bentuk kalsium hipoklorida atau yang dikenal para pedagang kimia sebagai kaporit. Wujudnya bisa berupa bubuk atau briket padat. Bentuk klorin lain ada dalam senyawa kimia sodium clorite yang berbentuk kristal putih. Ada pula klorin murni yang berbentuk gas berwarna kekuning-kuningan. Tapi, klorin jenis ini langka dan sangat mahal, sehingga kecil kemungkinan dipakai para petani.

Klorin sendiri sebenarnya zat kimia yang berfungsi sebagai desinfektan atau pembunuh kuman. Zat kimia ini bersifat racun bagi tubuh yang dalam perdagangan internasional disimbolkan dengan lambang tengkorak. Kendati demikian, di Indonesia klorin bisa diperjualbelikan secara bebas lantaran tak ada larangan untuk itu.



Apa pun alasannya memutihkan beras, praktik ini tetap saja tidak dibenarkan, baik dari sisi hukum dan kesehatan. Perlu ada langkah tegas untuk menyelamatkan masyarakat dari praktik penipuan ini. Langkah itu bisa diawali dengan mempertegas regulasi peredaran zat kimia berbahaya serta memberi sanksi hukum bagi petani yang dengan sadar telah merusak kesehatan konsumen.




Sumber : http://news.liputan6.com/read/136577/beras-kita-berklorin

Pemutih Beras

Beberapa tahun terakhir ini, banyak perbincangan mengenai pemutih beras, yaitu bahan untuk membuat beras menjadi putih bak putri cinderela.
Coba lihat beberapa reportasi mengenai ditemukannya klorin (kalium hipochloride atau kaporit) di dalam beras.

Seiring dengan permintaan market, terutama di Jakarta, maka di penggilingan beras lazim ditambah zat pemutih ini. Tapi makin lama pedagang makin kreatif untuk mencari untung yang lebih besar dengan mengganti zat pemutih yg ideal dengan khlorin, karena lebih murah.
Klorin merupakan bahan kimia yang biasanya digunakan sebagai pemutih pakaian. Zat tersebut dicampur beras dengan cara perendaman atau penyemprotan agar beras lebih putih dan mengkilat sehingga harga jual bisa tinggi. Jika terus dikonsumsi klorin ini bisa mengakibatkan kanker dan kerusakan ginjal.

Lebih memilih beras cantik tapi racun, atau bagaimana? Bagaimana membedakannya?

Berikut ini tips dari pedangang beras:
Beras berklorin mudah dibedakan dengan beras asli hanya dengan tampilan fisiknya.
“Beras yang dicampur zat pemutih, fisiknya putih mengkilap, bau obat atau deterjen, licin dan banyak serbuk putihnya. Sedangkan beras yang asli kesat dan utih kusam serta tidak berbau,”
Kasus pemutih ini mirip dengan gula putih, dimana digunakan pemutih gula dari bahan tulang binatang, terutama gula impor, yg bentuknya putih tih tih banget, kayak disiram cat tembok. Sekedar info, itu tulang binatang yg dipakai campuran, bisa dari sapi, tapi juga bisa dari babi. Wah bagaimana ini? Bahkan tulang yg dihancurkan model gini (utk sebagai pemutih gula), juga dapat menyebabkan kanker.

Sumber : https://kelapadua.wordpress.com/2007/01/30/pemutih-beras-dan-pemutih-gula/

Senin, 06 April 2015

Perhatikan beras anda! Ini bahaya klorin(pemutih) pada beras!

Sebelum membahas tentang klorin (pemutih) pada beras, sebaiknya kita mengetahui terlebih dahulu mengenai makanan, beras dan klorin.
Pertama mengenai makanan, makanan berasal dari kata “makan”. Namun kata makan sebagai kata kerja tanpa diikuti oleh objek kata benda, bagi orang Indonesia diartikan sebagai makan nasi. Pengertian kata makan tersebut menunjukkan keterkaitan dan keterkaitan yang kuat, yang menjadikan perasaan belum makan kalau belum makan nasi, meskipun sudah makan makanan lainnya. Makanan menjadi salah satu sumber energi bagi manusia karena di dalamnya terkandung senyawa-senyawa yang sangat diperlukan untuk memulihkan dan memperbaiki jaringan tubuh yang rusak, mengatur proses di dalam tubuh, perkembangbiakan dan menghasilkan energi untuk kepentingan berbagai kegiatan dalam kehidupannya.
Lalu yang kedua mengenai beras. Menurut Hadrian (1981) beras adalah suatu bahan makanan yang merupakan sumber pemberi energi bagi umat manusia.Beras mempunyai kandungan nutrisi yang sangat tinggi. Berikut kandungan nutrisi beras:
Tabel Nilai Gizi Beras per 100 gram

No
Komposisi Kimia
370 kkal (1530kj)
1
Karbohidrat
79 g
2
Gula
0,12 g
3
Serat Diet
1,3 g
4
Lemak
0,66 g
5
Protein
7,13 g
6
Kadar Air
11,62 g
7
Tiamina (Vit. B1)
0,070 mg (5% AKG)
8
Riboflavin (Vit. B2)
0,049 mg (3% AKG)
9
Niasin (Vit. B3)
1,6 mg (11% AKG)
10
Asik Pantotenik (B5)
1,014 mg (20% AKG)
11
Vitamin B6
0,164 mg (13% AKG)
12
Folik Asid (Vit B9)
8 µg (2% AKG)
13
Ferrum
0,80 mg (6% AKG)
14
Fosforus
115 mg (16% AKG)
15
Kalium
115 mg (2% AKG)
16
Kalsium
28 mg (3% AKG)
17
Magnesium
25 mg (7% AKG)
18
Seng
1,09 mg (11% AKG)
                            Sumber : Anonim, 2009

Tingginya kadar karbohidrat tersebut menyebabkan beras sangat ideal dijadikan bahan pangan pokok bagi penduduk di berbagai negara. Fungsi karbohidrat bagi tubuh sebagai penghasil sumber energi utama. Selain sebagai sumber karbohidrat, beras juga merupakan sumber protein penting dalam menu masyarakat Indonesia. Walaupun kadar proteinnya tidak setinggi kacang-kacangan, karena beras dikonsumsi dalam jumlah banyak setiap harinya, sumbangan proteinnya sangat bermakna bagi tubuh.
Dan yang ketiga adalah klorin. Menurut Adiwisata (1989) klorin, klor (Cl) adalah unsur halogen yang berat atomnya 35,46. Warnanya hijau kekuning-kuningan, titik didihnya -34,70C, titik bekunya -0,1020C, kepadatan 2,488 atau 21/2 kali berat udara. Klor pada tekanan dan suhu biasa bersifat gas dan dalam tekanan rendah mudah mencair. Klor tidak terdapat bebas di alam tetapi terdapat dalam senyawa terutama terdapat dalam logam Natrium, Magnesium, yang terdapat banyak ialah pada Natrium Chloride (NaCl). Klorin merupakan hasil tambahan yang dibuat dari Sodium Hydroxide dengan jalan mengelektrolisis Sodium Klor merupakan bahan yang penting dalam industri seperti alat pemutih pada industri kertas, pulp dan tekstil, untuk alat pendingin, untuk obat farmasi, untuk pipa PVC, untuk plastik hingga sebagai bahan pembersih. Meskipun sangat penting dalam industri tetapi harus diperhatikan pula bahaya-bahayanya, karena klor bersifat beracun/toksis terutama bila terhisap pernafasan.

Klorin memang berguna sebagai bahan pembersih. Sehingga banyak oknum yang membersihkan dan memutihkan beras dengan menggunakan klorin dengan alasan agar mendapatkan untung lebih karena banyak masyarakat yang memilih beras hanya karena bersih dan putih. Padahal sebenarnya dengan menggunakan klorin pada beras memiliki dampak buruk bagi kesehatan tubuh manusia. Diantaranya sebagai berikut :
     1. Menimbulkan kanker darah.
     2. Merusak sel-sel darah.
     3. Mengganggu fungsi hati/liver.
     4. Dapat merusak sistem pernapasan bila penggunaan klorin mencapai 3-5 ppm dalam
     5. Dapat mengganggu kesehatan mata, kulit dan batuk-batuk apabila penggunaan klorin mencapai 15-30 ppm dalam beras.
     6. Serta dapat menyebabkan kematian apabila penggunaan klorin diatas 30 ppm dalam

Berikut tips untuk mengidentifikasi adanya klorin dalam beras:
1. Jika dicuci  warna air hasil cuciannya agak putih bersih dan bening.
2. Jika beras direndam dalam air selama 3 hari tetap putih dan tidak berbau.
3. Ketika sudah dimasak dan ditaruh dalam penghangat nasi dalam semalaman, nasi sudah menimbulkan bau
tidak sedap.




Daftar pustaka :
  • Sinuhaji, D. N. 2009. Perbedaan Kandungan Klorin (Cl) pada Beras Sebelum dan Sesudah Dimasak. Diambil dari repository.usu.ac.id. 
  • Dianti, R. H. 2010. Kajian Karakteristik Fisiokimia dan Sensori Beras Organik Mentik Susu dan IR 64. Diambil dari eprints.uns.ac.id
  • Anonim. 2007. Pemutih Beras (dan Pemutih Gula). Diambil dari: kelapadua.wordpress.com
  • Anonim. 2013. Beras kita berklorin. Diambil dari: news.liputan6.com
  • Zakiah, Lulu. 2013. Laporan Praktik Kerja Industri Analisa Clorin Pada Beras. SMKN 2 Kota Tangerang. Tangerang.