Selasa, 28 April 2015

Pemutih Beras

Beberapa tahun terakhir ini, banyak perbincangan mengenai pemutih beras, yaitu bahan untuk membuat beras menjadi putih bak putri cinderela.
Coba lihat beberapa reportasi mengenai ditemukannya klorin (kalium hipochloride atau kaporit) di dalam beras.

Seiring dengan permintaan market, terutama di Jakarta, maka di penggilingan beras lazim ditambah zat pemutih ini. Tapi makin lama pedagang makin kreatif untuk mencari untung yang lebih besar dengan mengganti zat pemutih yg ideal dengan khlorin, karena lebih murah.
Klorin merupakan bahan kimia yang biasanya digunakan sebagai pemutih pakaian. Zat tersebut dicampur beras dengan cara perendaman atau penyemprotan agar beras lebih putih dan mengkilat sehingga harga jual bisa tinggi. Jika terus dikonsumsi klorin ini bisa mengakibatkan kanker dan kerusakan ginjal.

Lebih memilih beras cantik tapi racun, atau bagaimana? Bagaimana membedakannya?

Berikut ini tips dari pedangang beras:
Beras berklorin mudah dibedakan dengan beras asli hanya dengan tampilan fisiknya.
“Beras yang dicampur zat pemutih, fisiknya putih mengkilap, bau obat atau deterjen, licin dan banyak serbuk putihnya. Sedangkan beras yang asli kesat dan utih kusam serta tidak berbau,”
Kasus pemutih ini mirip dengan gula putih, dimana digunakan pemutih gula dari bahan tulang binatang, terutama gula impor, yg bentuknya putih tih tih banget, kayak disiram cat tembok. Sekedar info, itu tulang binatang yg dipakai campuran, bisa dari sapi, tapi juga bisa dari babi. Wah bagaimana ini? Bahkan tulang yg dihancurkan model gini (utk sebagai pemutih gula), juga dapat menyebabkan kanker.

Sumber : https://kelapadua.wordpress.com/2007/01/30/pemutih-beras-dan-pemutih-gula/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar